Manfaat Jaringan Komunikasi Bagi Daerah Pedalaman


Smart City yang saat ini digadang-gadang mulai dikembangkan di Indonesia merupakan konsep yang dianut dari bebrapa Negara yang sudah mulai bahkan telah berhasil menerapkan Smart city nya, nah Sebagai Negara yang gak PTT (Pantang Tak Top ) Indonesia pun ikut-ikutan untuk menerapkan sitem Smart City di Indonesia, Hal ini dilakukan Indonesia tanpa memandang sudut pandang yang luas dan berfikir untuk hal yang belum dikerjakan, hingga saat ini masih banyak di Indonesia daerah-daerah yang memiliki penduduk yang lumayan banyak namun masih juga belum mendapatkan sarana komunikasi yang memadai, masih banyak daerah di Indonesia sebut saja daerah Kalimanta, Papua atau daerah pedalaman Sumatera yang memeiliki banyak pemukiman namun tidak memiliki jaringan komunikasi yang memadai, penerapan Smart City di Indonesia tanpa memikirkan hal-hal yang belum terselaseaikan, mestinya pemerintah atau penyedia jasa jaringan telekomunikasi terlebih dadulu memikirkan bagaimana caranya pemerataan jaringan komunikasi yang lebih baik bagi kawasan-kawasan pemukiman yang masih belum terjangkau jaringan komunikasi.

Karena dengan adanya jaringan komunikasi yang memadai pertumbuhan dan perkmbangan pola piker masyarakat pun akan lebih terbuka yang pastinya masyarakat itu sendiri pun dapat berfikir lebih luas, bagi kita yang saat ini bias merasakan jaringan dengan teknologi terbaik di Indonesia patut bersyukur, karena pasti tak perna terbayangkan masih banyak daerah yang tak mendapatkanapa yang anda dapat, jangankan mendapatkan jaringan lancar sekelas 4G atau 3G, untuk untuk menikmati 2G pun sulit bahkan untuk mendapatkan sinyal untuk sekedar Komunikasi suara atau mengirim pesan singkat pun harus berusaha susah paya.

Pasti sebagian orang yang membaca ini ada yang belum perna terfikir, sekedar informasi tulisan sederhana yang and abaca ini saya tulis di daerah pedalaman Kalimantan Barat, tepatnya di Kecamatan Manismata, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Daerah yang punya banyak penduduk namun sulit mendapatkan jaringan yang memadai. Berutung sedikit saya bekerja di perkebunan yang menyediakan jaringan internet satelit dengan kecepatan 128 Kbps yang dipakai oleh 10-30 orang secara bersamaan, kebayang gak gimana rasanya, perna kebayang tidak, namun inilah kondisi yang harus saya hadapi sebagai seorang pekerja yang mengabdi untuk perusahaan. Monon jangan mual dengan kata-kata terakhir heheh.

Pola pikir masyarakat disini pun cendrung lebih lambat berkembang dibanding masyarakat yang tinggal diperkotan dengan aksen komunikasi dan internet lancar, karena dengan itu banyak yang informasi yang didapat yang tentunya hal itu menjadi perbendaharaan pemikiran yang lebih luas bagi masyarakat itu sendiri.

Sulit berkembangnya pemikiran masyarakat di sini pun terlihat dengan masih diberlakukannya hokum adat yang saya rasa tidak masuk akal dan seakan sering tidak benar, dan jealas tidak ada hokum pasti yang berlaku dalam adat semua salah atau tidaknya sebuah kasus ditentukan oleh ketua adat dan apa hukumannya pun ditentukan oleh ketua adat.

Pemerataan fasilitas umum untuk menunjang masuknya informasi dan mempermudah ruang gerak masyakat pun tidak merata bagaimana bisa pemerintah memikirkan Smart City yang diperuntukkan hanya untuk daerah-daerah perkotaan yang sudah bisa menikmati semua fasilitas untuk menunjang ekonomi dan pendidikan mereka sementara masih banyak daerah yang masih sulit mendapatkan layanan-layanan fasilitas umum untuk menunjang kemajuan ekonomi dan pemikiran mereka agar lebih maju.

Daripada pemerintah menggadang-gadang untuk membuat smart city jauh lebih baik pemerintah membangun fasilitas-fasiltas umum secara merata, seperti listrik, starsportasi dan jaringan komunikasi secara merata.


Beberapa bulan lalu saya sempat mendengar tentang akan dilakukannya uji coba Balon udara Google yang akan diterbangkan dibeberapa daerah yang sulit dijangkau oleh BTS, tapi entah kapn mulai terealisasi, tak jelas kapan terealisasi.

0 comments:

Post a Comment